Minggu, 11 Januari 2015

3 amalan penting

Ada tiga amalan yang jika kita kerjakan pahalanya akan terus menerus mengalir kepada yang mengerjakannya meskipun mereka telah meninggal dunia, yaitu1) ilmu yang bermanfaat, 2) doa anak shaleh, 3) amal jariyah. Ini sesui dengan hadist riwayat Muslim yang bunyinya:”Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang berdoa kepadanya.”
1) Ilmu yang Bermanfaat. Ilmu yang bagaimana? Bukankah jika kita ingin selamat baik di dunia maupun di akhirat, kita harus berilmu? Tanpa ilmu maka sia-sialah ibadah kita. Nah, ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu yang dapat menyelamatkan diri kita dan keluarga kita serta masyarakat dari kesengsaraan di dunia dan di akhirat. Ilmu dalam kajian Islam tidak terpisahkan antara dunia dan akhirat. Dunia adalah ladang untuk bekal hidup di akhirat. Oleh sebab itu, yang dimaksud dengan ilmu disini adalah ilmu yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadist. Dari sini dapat diturunkan dan dikembangkan  berbagai ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu yang berkaitan dengan akhirat. Nah, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diturunkan kepada orang lain karena Allah semata. Dengan ilmu itu baik diri sendiri, keluarga dan orang lain dapat hidup sejahtera baik di dunia maupun di akhirat. Selama ilmu tersebut digunakan oleh orang lain, maka selama itu pula orang yang memberi ilmu itu mendapat pahala. Jika orang yang diberi ilmu itu menurunkan pula kepada orang lain dan orang tersebut mengamalkannya maka pahala masih terus mengalir. Selama ilmu itu dimanfaatkan terus maka pahala akan mengalir terus. Oleh sebab itu, bagi para guru, dosen dan siapa saja yang memberikan ilmu karena Allah semata, Insya Allah pahala akan terus mengalir meskipun anda telah lama menghuni alam barzah. Anda dapat menurunkan ilmu anda baik melalui buku, artikel, mengajar, diskusi, seminar, contoh-contoh nyata dan lain sebagainya. Agar ilmu yang kita turunkan mendapat pahala dari Allah, maka kita niatkan karena Allah semata, bukan karena ingin popularitas, bukan karena ingin dipuji dll.
2. Anak sholeh yang mendoakan orangtuanyaSiapakah yang dimaksud dengan anak? Pertanyaan ini sering muncul dalam pembahasan anak sholeh. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan anak yang anak kandung. Sebagian lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan anak adalah anak kandung, anak tiri, anak angkat dan anak anak sepersusuan. Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan anak adalah kaum muslimin. Pendapat ini didasarkan bahwa tidak semua orang mempunyai anak seperti yang disebutkan di atas. Sebab banyak orang muslim yang meninggal tanpa anak, meninggal masih gadis atau bujang. Lalu apakah mereka tidak mendapatkan kesempatan dari doa anak sholeh? Lepas dari perbedaan pendapat tentang siapakah yang dimaksud dengan anak dalam hadist, namun ada kesepakatan bahwa doa itu akan sampai kepada mereka yang meninggal jika mereka yang telah meninggal semasa hidupnya menegakkan sholat lima waktu. Sholat diibaratkan sebagai sinyal pada HP. Kiriman doa anak sholeh akan mantul dan tidak sampai karena tidak ada sinyal. Yang berperan sebagai sinyal adalah sholat. Kita semua tahu bahwa yang pertama kali dihisab nanti di akhirat adalah sholat. Jika sholatnya baik maka amalan lainnya dinilai baik dan sebaliknya. Ini sesuai dengan fungsi sholat yang akan mencegah seseorang untuk berbuat keji dan mungkar. Inilah kualitas sholat yang diharapkan dapat digapai oleh setiap orang muslim. Jadi, mari kita perbaiki sholat kita agar kita selamat baik di dunia maupun di akhirat nanti, Insya Allah.
3) Sedekah jariyahSedekah jariyah dapat didefinisikan sebagai amalan atau sedekah yang terus menerus dapat dimanfaatkan oleh orang lain meskipun orang yang bersedekah telah meninggal dunia. Ini yang menyebabkan sedekah jariyah tidak terputus pahalanya, yaitu dikarenakan terus menerus dimanfaatkan oleh orang lain. Jika mengacu kepada hal ini, maka jika sedekah tersebut tidak lagi dimanfaatkan, dibongkar atau yang sejenis maka pahalanya juga akan terputus.
Menurut Imam al-Suyuti (911 H) ada 10 amal yang pahalanya terus menerus mengalir, yaitu: 1) ilmu yang bermanfaat, 2) doa anak sholeh, 3) sedekah jariyah (wakaf), 4) menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, 5) mewakafkan buku, kitab atau Al Qur’an, 6) berjuang dan membela tanah air, 7) membuat sumur, 8) membuat irigasi, 9) membangun tempat penginapan bagi para musafir, 10) membangun tempat ibadah dan belajar.
Ada pertanyaan yang mengelitik: “Wah kalau begitu enak yang hidup duluan jika dibandingkan yang kemudian misalnya baru beramal jariyah menjelang kiamat.” Apa betul demikian? Kita jangan terjebak pada perhitungan ala manusia yang terbatas kemampuannya. Cara perhitungan Allah pasti jauh berbeda dengan manusia. Tentu saja cara perhitungan yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia. Kita harus yakin akan kemahaadilan Allah. Kita berusaha beramal sholeh  karena Allah jauh dari riya’ dan keputusannya kita serahkan kepada Allah yang Maha Adil. Kita jangan khawatir, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan ibadah yang ikhlas dari makhluk-makhluk-Nya. 
Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiallahu’anhu bahwa RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
سَلوا اللهَ علمًا نافعًا ، و تعوَّذوا باللهِ من علمٍ لا ينفَعُ
Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat”1.
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mendapatkan anugerah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang sesuai dengan petunjuk yang diturunkan oleh Allah Ta’ala kepada Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam dan mewariskan amals shaleh untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala2, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mungkin memerintahkan untuk memohon kepada Allah Ta’ala kecuali sesuatu yang mulia dan mendatangkan kebaikan besar di Dunia dan akhirat. Inilah makna firman Allah Ta’ala:
{ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا }
Dan katakanlah: “Wahai Rabb-ku tambahkanlah kepadaku ilmu” (QS Thaahaa: 114)3.
Beberapa faidah penting yang dapat kita petik dari hadits ini:
  • Semua ayat al-Qur’an dan hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang menjelaskan keutamaan dan kemuliaan ilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang mewariskan amal shaleh4.
  • Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu adalah mempelajari dengan seksama dalil-dalil dari al-Qur-an dan Sunnah RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam, serta (berusaha) memahami kandungan maknanya, dengan mendasari pemahaman tersebut dari penjelasan para sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, para Tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka dalam memahami kandungan al-Qur-an dan Hadits. (begitu pula) dalam (memahami penjelasan) mereka dalam masalah halal dan haram, pengertian zuhud, amalan hati (pensucian jiwa), pengenalan (tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala) dan pembahasan-pembahasan ilmu lainnya, dengan terlebih dahulu berusaha untuk memisahkan dan memilih (riwayat-riwayat) yang shahih (benar) dan (meninggalkan riwayat-riwayat) yang tidak benar, kemudian berupaya untuk memahami dan menghayati kandungan maknanya”5.
  • Di tempat lain, beliau berkata: “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang masuk (dan menetap) ke dalam relung hati (manusia), yang kemudian melahirkan rasa tenang, takut, tunduk, merendahkan dan mengakui kelemahan diri di hadapan Allah Ta’ala6.
  • Kedua penjelasan Imam Ibnu Rajab ini sepintas kelihatannya berbeda dan tidak berhubungan, akan tetapi kalau diamati dengan seksama kita akan dapati bahwa kedua penjelasan tersebut sangat bersesuaian dan bahkan saling melengkapi. Karena pada definisi yang pertama, beliau ingin menjelaskan sumber ilmu yang bermanfaat, yaitu ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits yang shahih (benar periwayatannya) dari RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam, yang dipahami berdasarkan penjelasan dari para sahabat NabiShallallahu’alaihi Wasallam, Tabi’in (orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat), dan orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka. Ini berarti, seseorang tidak akan mungkin sama sekali bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat tanpa mengambilnya dari sumber Al ‘Ilmu An Naafi’ yang satu-satunya ini.
  • Adapun pada definisi yang kedua, beliau ingin menjelaskan hasil dan pengaruh dari ilmu yang bermanfaat, yaitu menumbuhkan dalam hati orang yang memilikinya rasa tenang, takut dan ketundukan yang sempurna kepada Allah Ta’ala. Ini berarti bahwa ilmu yang cuma pandai diucapkan dan dihapalkan oleh lidah, tapi tidak menyentuh – apalagi masuk – ke dalam hati manusia, maka ini sama sekali bukanlah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu seperti ini justru akan menjadi bencana bagi pemiliknya.
  • Keburukan besar akibat dari ilmu yang tidak bermanfaat adalah sebagaimana yang diisyaratkan dalam doa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam : “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan”7.
  • Dalam hadits yang agung ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menggandengkan empat perkara yang tercela ini, sebagai isyarat bahwa ilmu yang tidak bermanfaat memiliki tanda-tanda buruk, yaitu hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan8nu’uudzu billahi min dzaalik.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 25 Dzulhijjah 1434 H Abdullah bin Taslim al-Buthoni
Catatan Kaki
1 HR Ibnu Majah (no. 3843) dan Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushannaf” (6/266, no. 236), dinyatakan hasan sanadnya oleh Syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” (no. 1511).
2 Lihat kitab “Faidhul Qadiir”(4/143).
3 Lihat kitab “Tafsir al-Qurthubi” (4/41).
4 Lihat kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/60).
5 Kitab “Fadhlu ‘ilmis salaf ‘ala ‘ilmil khalaf” (hal. 6).
6 Kitab “Al Khusyuu’ fish shalaah” (hal. 16).
7 HSR Muslim (no. 2722).
8 Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/319) dan “Faidhul Qadiir” (2/108).
Penulis : Drs. Ali fathoni,.ST,.MM
Artikel Muslim.Or.Id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar